Sabtu, 01 Desember 2012

Sinopsisi Novel "MIMPI BUNGSU"



nih bgi tman-tman yang pingin tahu sinopsis dari Mimpi Bungsu ,,, silahkan dibaca ya .....



Gadis kecil itu mengikuti langkah  kaki ibunya yang tengah membawanya ke sebuah tempat asing yang tak pernah dilihat sebelumnya. Awalnya mereka tinggal di Kota Jakarta, tidur di emperan pinggir Stasiun Gambir. Berbekal tas berisi pakaian dan makanan ringan juga sebotok air mineral kecil, wanita itu membawa anak gadisnya yang berusia 7 tahun pindah ke kota lain.
                “Sudah saatnya kita pergi dari kota yang ruwet ini, Bungsu, “ tuturnya seraya menggendong gadis kecil bernama Bungsu itu di punggungnya.
                “Kenapa harus pindah, Bu ? Kan enak di Jakarta ? Rame.”
                Langkahnya semakin cepat dan berebut kursi di dalam  kereta. Tidak ada yang ingin berdekatan dengan ibu si Bungsu,  karena bau  badannya yang menyebar ke segala penjuru. Namun, ibu si Bungsu merasa senang karena ia akhirnya mendapatkan kursi untu dirinya dan anaknya pula.
                Wanita itu membawa sebuah kartu nama yang baru ia saja ia keluarkan saat bungsu tertidur di pangkuannya. Ia mengeja nama yang tertera di atas kartu nama berwarna putih polos dengan suara pelan, “Sofie, Gang Jarak,Surabaya.”  Kaca jendela yang menyiratkan waktu malam telah datang bercamour dengan rasa panas di kereta. AC hanya diberikan pada orang-orang ekslusif saja,bukan pada rakyat jelata. Seperti dirinya, Hanny namanya.
                Gadis kecil itu mengikuti langkah kaki ibunya yang tengah membawanya ke sebuah tempat yang ia belum pernah  liat sebelumnya. Sebuah tempat yang terkesan sangat padat oleh penduduk, gang kecil yang rapat dan banyak sekali perempuan di luar yang tengah melakukan aktivitasnya. Bungsu tinggal di sebuah rumah kecil bertipe dua puluh satu yang hanya memiliki satu kamar, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu. Selama setengah harian mereka terlihat sibuk membersihkan rumah, dan Bungsu pun senang-senang saja akhirnya ibunya mendapatkan tempat tinggal.
                Ibu si pemilik rumah yang dipanggil orang-orang dengan sebutan “Djeng Sofie” itu tiap minggunya membawakan sekardus susu sapi untuk Bungsu dan ibunya. Wanita itu, Hanny beranjak dari tempat ia duduk dan melongok keluar jendela. Ia melihat beberapa perempuan-perempuan genit yang sedang menggoda lelaki. Jika Bungsu tahu pekerjaan mereka adalah pelacur,,mungkin ia akan secara terang-terangan berteriak dan menegur mereka. Itulah yang ditakutkan Hanny, andai saja ada kesempatan waktu untuk berlari.Jika saja, tapi kemana? Jika saat itu ia tidak bertemu dengan Djeng Sofie di Jakarta dan jika saja suaminya tidak pergi meninggalkannya, tentu ia dan Bungsu tak akan pernah menjadi gelandangan.
                Gadis kecil itu menari kegirangan lantaran akhirnya ia didaftarkan ibunya untuk bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah. Namun, di tengah perjalanan tiba-tiba terjadi sesuatu yang sempat menghentikan langkah si Ibu Bungsu untuk meneruskan proses pendaftaran ketika ia hendak menuliskan alamat rumah tinggalnya. Wanita itu tiba-tiba menarik lengan Bungsu dan membawanya keluar  ruang  pendaftaran. Hanny membawa Bungsu pulang ke rumah dan sesampainya di rumah Bungsu tetap menangis dan akhirnya ia tertidur.
                Gadis kecil itu tertidur di atas sofa yang usang tanpa selimut. Suara jam kuno telah berdentang 8 kali, kerasnya suara jam itu membangunkan Bungsu dari tidurnya. Ia bermimpi berada di dalam sebuah taman yang indah.Di taman tersebut ia melihat seekor kucing hitam yang misterius dan matanya berwarna kuning menyala, ekornya panjang melingkar di sisi kiri kaki kiriny. Kemudian ia menceritakan semua mimpinya kepada ibunya. Namun, ibunya hanya bilang mimpi adalah bunga tidur.
                Bungsu terkejut siang hari itu ketika ia baru saja bangun dari dari tidur siangnya. Tepat di bawah tempat tidurnya, ia menemukan sesuatu yang dulu tak dapat pernah didapatnya selain hanya impian saja, yaitu sepasang sepatu baru berwarna di atasnya ada pita. Lagi-lagi ibunya tidak ada di rumah dan Bungsu pun menangis dan kesal lantaran ibunya mengunci pintu dari luar.  Dilemparnya sepasang sepatu baru itu di kaki Hanny, sesaat ia baru saja membuka pintu rumah kontrakannya. Gadis kecil itu keluar tanpa pamit dan berlari kencang menyusuri gang kecil.
                Gadis itu berhenti di sebuah tempat yang jauh dari rumahnya. Ia melirik ke sebelah kiri, dimana rupanya ia tengah dilihat oleh seorang lelaki tua yang memandanginya. Lelaki itu menghampiri Bungsu dan memberikan sebuah mainan baling-baling. Langit semakin gelap, Bungsu tetap terlihat ceria dan melupakan ibunya juga hal yang membuatnya sedih juga kecewa. Pada saat ia menoleh, terlihat ibu Bungsu yang menuju ke arah Bungsu. Hanny pun membawa paksa Bungsu pulang ke rumah padahal sebetulnya Bungsu tidak ingin pulang ke rumah.
                Suara ribut dari luar rumah membuat Bungsu terbangun dan penasaran untuk mengintip keluar rumah. Bungsu melihat punggung seorang wanita yang amat dikenalnya yaitu ibunya. Malal itulah yang tak bisa dilupakan oleh Bungsu. Ibunya tengah menjadi sosok jejadian di malam hari, dan menjadi baik di pagi hari. Ibu si Bungsu adalah wanita murahan!
                Bungsu adalah anak dari Raman seorang penjudi di kampung tempat tinggal Hanny. Ia disuruh menikah dengan Raman lantaran ayahnya tidak sanggup membayar semua hutang ayahnya kepada Raman. Ia pun terpaksa menikahi Raman demi ibu dan ayahnya. Namun Raman bunuh diri ketika Hanny telah menganudung anak mereka. Hanny tak tahu mengapa ini semua terjadi. Mungkin ini adalah takdir untuknya. Hanny mengurus Bungsu sendiri tak ada yang menemaninya. Ketika berumur 1 tahun, ia sudah bisa berjalan dan berlari kecil. Ketika berumur 2 tahun, ia bisa berkata-kata dengan lucu. Ketika berumur 4 tahun, ia bisa mengikuti irama lagu yang tengah dinyanyikan itu dengan iringan tari.
                Di pagi hari buta, Bungsu yang bangun terlebih dahulu ketimbang ibunya memutuskan keluar dari rumah tanpa izin setelah ia berhasil mengambil kunci dari kantong ibunya sebelumnya. Ia membawa sebungkus plastik makanan dan berlari menuju ke tempat dimana lelaki tua itu tidur. Ia sangat terkejut dan sedih melihat lelaki itu terbujur kaku. Ia mengambil beberapa mainan yang ada di karung goni milik lelaki itu di antaranya sebuah mainan kucing berwarna hitam.
                Semenjak paman mainan itu meninggal Bungsu berubah menjadi pendiam dan selalu memandangi baling-baling kerta yang diberikan oleh paman mainan itu. Tak terasa air mata menitik pelan sampai ia tertidur sambil duduk di kursi teras. Gadis kecil itu menjerit lepas, tubuhnya gemetar karena ia baru saja melihat sesuatu yang mengejutkannya. Bungsu melihat ada 6 peri yang imut. Ada yang memakai gaun merah, kuning, putih, hijau, biru, dan ungu. Tiba-tiba, Bungsu dikejutkan lagi dengan kedatangan seekor kucing hitam berekor panjang yang di dahi kucing tersebut ada sebuah tanda bintang emas yang berkelip. Wanita itu menepuk-nepuk pipi Bungsu beberapa kali. Namun rupanya gadis itu belum juga bangun dari tidurnya. Digendongnya tubuh Bungsu yang kecil dan dibawa masuk ke dalam kamar.
                Gadis itu menceritakan semua hal tentang mimpinya pada sang ibu, yang saat itu tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya, ia terlihat sangat antusias. Niat Gito untuk membeli Hanny dan Bungsu sudah bulat. Ia membeli mereka melalui Djeng Sofie. Wanita itu langsung menarik beberapa gepok uang yang diberikan kepadanya. Ia segera memberitahu Hanny agar lekas membawa pakainnya kemudian mengosongkan rumah itu. “ Kau harus bersiap Hanny, masukkan semua pakaianmu ke dalam tas. Dan malam ini juga kau harus pergi.” Bisik Djeng Sofie saat memberitahukan kedatangan Gito membawa Hanny pergi dari sini. “ Tapi, Bungsu. Dia sudah bangun.” “ Sudah, berikan dia padaku. Aku akan mengurusnya, kau pergi saja.”
                Gadis kecil itu menyeret sandalnya saat ia tiba-tiba dibawa keluar oleh Djeng Sofie. Dengan sedikit kikuk, wanita itu bingung menjelaskan pada gadis kecil yang ketakutan. Bungsu semakin memberontak, ia berusaha mengambil tongkat ajaib miliknya. Tongkat itu yang akan digunakan untuk merubah wanita itu menjadi patung.. Tiba-tiba, angin berhembus kencang seakan-akan terjadi badai. Gadis kecil itu menggunakan kesempatannya untuk lari menjauh dari Djeng Sofie.
                “ Aku harus berlari, harus, mereka ... hosh ... hosh...hosh ...tidak boleh menangkapku aku tidak mau dijadikan pelacur kecil, tidak! Aku ingin bertemu dengan Tuhan, aku ingin meminjam tongkat Kuasa-Nya untuk mengubah dunia.”
Gadis kecil itu melihat dua orang bertubuh kekar membawa seorang wanita dan seorang lelaki yang baru saja dipukul kepalanya.  Ibu .. Ibu .. Ibu! . Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi, tongkat ajaib yang ia pegang menghilang dan berbentuk serpihan yang jatuh ke tanah. Dua orang bertubuh kekar itu menghentikan mobil di pinggiran persawahan yang gelap dan sangat sepi dari keramaian dan  menyekap Hanny dan lelaki itu di rumah kosong.
Sayup-sayup terdengar suara orang-oran yang mengitari gadis kecil itu di sekitarnya. Suara laki-laki yang tengah berbicara dengan orang lain.
“ Aku dimana?”
Seorang lelaki berjubah putih memperhatikan gadis kecil yang baru angun dari tidur panjangnya. Ia menepuk-nepuk pipi sekali.
“ Aku dimana?”
“ Di rumah sakit.”
Bungsu mencoba untuk turun dari ranjangnya, karena ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merasa telah menjalani hal-hal yang panjang dan ternyata ia ditemukan tengah pingsan dan ada di rumah sakit. Padahal yang terjadi, seolah-olah adalah suatu ceritayang nyata.
“ Bungsu! Bungsu! Bungsu! Kau sudah sadar, Nak!” dikecupnya kening dan pipi Bungsu berkali-kali. Setelah ia mendengar berita dari suster yang memberikan kabar baik untuknya.  Bungsu  beralih keluar jendela dan menatap ibunya sedang berbicara dengan dokter. Anehnya, disamping ibunya ada seorang laki-laki tengah menepuk pundak ibunya?
“ Siapa dia?” Bungsu memperhatikan dengan saksama. “ Itu pacar ibu.”
Bagaikan disambar petir ketika ucapan itu yang baru saja keluar dari mulut ibunya. Walaupun ada setitik rasa bahagia ketika ia melihat senyuman ibunya terpancar bahagia berdampingan dengan lelaki itu. Dalam perjalanan pulang, gadis kecil itu diam saja sambil merenungkan sesuatu.
“ Bungsu, kita sudah sampai. Malam ini kita akan pindah dari termpat ini menuju rumah kita yang baru. Mereka pun bersiap-siap keluar dari rumah, kali ini Djeng Sofie mengantarkan keduanya naik ke atas mobil sedan hitam.
Gadis kecil itu berjalan di sebuah taman yang sebelumnya pernah ia pijak pertama kalinya. Semuanya terlihat sama. Dan tak berbeda. Ia pun berkata,
“ Ya Tuhan, apakah ini termasuk dari suatu keajaibanMu? Beritahu aku siapakah paman mainan itu sebenarnya?” Gadis kecil itu memejamkan matanya.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Dibukanya perlahan-lahan matanya, benar. Ia melihat secercah cahaya yang menyilaukan matanya. Tampak sesosok wanita cantik berjubah putih. Ia tahu benar bahwa itu adalah ibunya.
“ Sebenarnya, kita ada dimana, Bu?”
“ Di atas bulan, Sayang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar